Sunday, May 9, 2010

Cerita Pendek Sebuah Perjalanan Panjang


Pelangi Tersenyum



Ketika sayap asma-Nya datang menghampiri. Masih adakah kesombongan ilmu?

Di hari yang begitu cerah, pemanasan global mulai menyentuh kota Banjarmasin. Aku berjalan di temani doa muara kasih sayang yakni sang Bunda, begitu lama aku terpaku di sepanjang jalan, sungguh kejadian yang mengiris hati.

Tak ku dapatkan sirat kehidupan seperti ini di tempat peraduan saat pertama membuka mata. Begitu mata mencoba menyentuh tangisan batin seorang manusia. DAKWAH. JIHAD. Seketika itu hatiku terlempar jauh.

"Astagfirullah! Sungguh bodoh aku ini, kerdil hati ini! Sampai kapan aku terdiam tanpa memaknai kehidupan ini."

Di sudut kota ini hatiku terpikat olah senyuman tulus seorang gadis, mungkin bagi sebagian orang dia tak berarti, tapi bagiku dia PELANGI. Aku terdiam dan air mata ikut mengiringinya, "Aduh,mamabiang aku kangen sama kau...!! Ya Allah sentuhlah dia dengan sejuta senyumanMU katakan bahwa aku bahagia."

Gadis itu begitu polos, tulus, tak ada niat untuk menyakitiku. Kamu tahu? Siapa dia? Mereka menyebutnya dia gila!!

Ketika aku menahan lapar, terlunta-lunta di kota ini. Dia yang menawarkan segenggam penyambung usia, bukan seperti aku yang begitu menutup auratnya, mungkin pula menutup hatinya. Sungguh aku malu dan merasa yang paling kerdil.

Jujur aku bukan yang bagus dalam memahami ajaran Islam. Tapi, aku belajar dari langkah kaki kecilku tentang kasih sayang-Nya, banyak sekali umat muslim yang hafal Al-Quran begitu pula dengan Hadist, ibadahnya pada Allah sungguh bagus. Shalat lima waktu, sunnah rawatib, qiyamulail, menutup auratnya itu banyak sekali dan di setiap kota aku temukan itu. Tapi, rasa curiga tidak menentu, takut tak beralasan, was-was begitu dalam seakan menenggelamkan taqorub mereka dengan Allah, sama dengan aku. Atau bahkan mengedepankan kelompok mereka. Sungguh jarang sekali ku temukan senyuman tulus dari mereka.

Itulah kelemahanku rasa peduli sesama nilainya nol karena kesombongan ilmu yang menguasai dan manusia yang berdusta sebagai acuan untuk berfikir dua kali untuk menolong sesama.

***

Akhirnya ku teruskan langkah kaki kecilku melangkah. Sampailah aku di suatu Mesjid salah satu rumah sakit di kota banjarmasin, sesudah aku shalat dzuhur hatiku terkejut sekaligus takjub melihat sosok seorang akhwat yang begitu cantik sambil tersenyum dia bertanya, "Assalamu'alaikum gadis manis. Afwan, dari tadi saya perhatikan kaki kecilmu melangkah dan kau menagis sambil berdoa ada apa rupanya?"

Sejenak aku terdiam, mata ini seakan terhipnotis oleh keramahannya.

"Tidak apa, aku hanya ingin pulang dan mencari sedikit biaya untuk berobat mama".

Beliau pun mengajak aku ke ruangan yang penuh dengan bunga mawar dan lukisan pelangi di padu indahnya ukiran ayat-ayat suci Al-Quran. Beliau mengajak aku makan siang bersama, dan berjalan berkeliling kota Banjarmasin. Aneh sekali. Bukan tempat mewah yang beliau perlihatkan jauh sekali dengan gemerlap dunia, tapi kesakitan hidup. Beliau duduk di pinggir gubuk yang begitu rapuh, tiba-tiba datang anak-anak yang begitu lusuh. Ternyata selain beliau seorang dokter, guru penghias cita anak-anak yang tidak begitu beruntung.

Aku kembali berfikir masih ada akhwat sebaik beliau. Setelah selesai mengajar beliau telusuri gang-gang kota dan menanyakan siapa saja yang sakit, kelaparan dan yang akan melahirkan
aku tersentak pula dengan latar belakangnya, beliau anak yatim piatu. Ibunya menghadap Allah setelah melahirkan beliau, dan ayahnya tidak jelas karena beliau lahir dari hasil perkosaan. Innalillahi.

Beliau hidup tanpa bimbingan orang tua, mempunyai ketulusan yang luar biasa kenapa kita tidak? Malukah Anda?

SUBHANALLAH...

PELANGI TERSENYUM ADA DI HADAPANKU.....

Akhirnya aku pulang diantar beliau. Beliau bayar biaya RS mama, dan memberiku modal untuk usaha.

Tapi, pantang bagiku untuk terima begitu saja. Maka, aku angkat enam orang hamba Allah yang tak mereka dapatkan lagi kasih sayang orang tua mereka. Tahukah anda aku begitu bahagia bisa berbagi,
dan Andapun bisa.

SEMANGAT... SEMANGAT... ALLAHU AKBAR!!!

Sekarang aku menunggu beliau di sudut kota Bogor.

"Ukht semoga ku dapati lagi, akhwat seperti kau, aku menunggumu di sini". Gumamku dalam hati.

Maha besar Allah yang mempertemukan kau denganku, dokter rimbu itu julukannya. Aku akan ada di hatimu.

***

Bogor, 9 Mei 2010


Matahari Senja

No comments:

Post a Comment

Komik Karpet Biru

I love my BLOG